Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Screen Shot 2016-07-09 at 8.14.03 PM

Entah kenapa pengen terus dengerin lagu yang satu ini.. Mungkin karena sedang bulan Ramadhan ya, jadi pas lah momennya, Terus iseng2 browsing bagaimana cerita dibalik penulisan lagu ini, Kebetulan dapet artikel yang bagus banget, dari www.ratnautami.com.

 

Berikut saya kutip artikelnya.

Dalam keheningan malam 1 Muharram 1432 Hijriyah, aku coba menghisab diri akan apa nan telah aku perbuat selama ini. Hati aku tergugu ketika membaca dan mentadabburi ayat ke 65 dari surat Yaasiin, “Alyauma nakhtimu ‘alaa afwaahihim wa tukallimunaa aidiihim wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun” nan artinya Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa nan dahulu mereka kerjakan (terjemah al-Qur’an, depag RI).

Ayat tersebut disamping meluluhlantakan hati juga mengingatkan aku akan sebuah lagu beserta orang-orang nan memiliki pengalaman spiritual berkaitan dengan ayat tersebut. Karena tersentuh dengan apa nan mereka alami, artikelnya aku simpan sebagai pengingat diri.

Malam ini, di antara derai hujan nan bertasbih memujiNya, aku buka kembali folder loka menyimpan kisah tersebut dan membacanya lagi. Subhanallah, rasa nan hadir saat pertama kali membacanya tak berubah hingga kini.

Sengaja aku sertakan cuplikan artikelnya di sini.

***

Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi (1949-2007) di majalah sastra HORISON:

Di tahun 1997 aku berjumpa Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, “Bang, aku punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi aku tak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena aku suka lagu-lagu Chrisye, aku katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan aku nan lain, deadline sebulan itu bolehlah.

Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan buat setiap larik berapa jumlah ketukannya, nan akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian aku dengarkan lagu itu. Latif sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya aku akan telepon Chrisye keesokan harinya dan aku mau bilang, “Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu.

Saya punya Norma rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 nan berbunyi, A’udzubillahiminasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu ’alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun” aku berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa nan telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan aku bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya aku ragu apakah makna nan sangat berbobot itu akan dapat masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu aku beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega aku berkata di telepon, “Chris, alhamdulillah selesai.” Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut.

Berikutnya hal tak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dlm memoarnya nan dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye–Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye:

Lirik nan dibuat Taufiq Ismail ialah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, nan menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius nan tersimpan dlm lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi nan begitu menyayat, lagu itu bertambah susah aku nyanyikan! Di kamar, aku berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata aku membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons aku nan tak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat aku dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam aku gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya.

“Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia menyarankan aku buat tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya.

Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja aku menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali aku menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah aku merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan buat dapat menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa nan sudah senewen menunggu lagu terakhir nan belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa embarkasi ke Australia sudah tak dapat ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, aku lalu mengajak Yanti ke studio, menemani aku rekaman. Yanti sholat spesifik buat mendoakan saya.

Dengan susah payah, akhirnya aku dapat menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena aku sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara aku dengan getaran nan paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila aku mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling krusial dlm deretan lagu nan pernah aku nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar sahih meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin aku nan paling dlm selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dlm memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis ketika menyanyi, hal nan serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dlm konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dlm lagu tersebut.

***

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dlm peluncuran album nan aku hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser buat lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa aku tak asli menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi loka lewat, jadi saluran saja. Jadi aku tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu nan bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ’kan?”

Saya pikir jalan nan ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau aku berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan dapat ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye aku terima. Chrisye senang, aku pun senang.

***

Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye mati dlm usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Penaksiran nan mengejutkan ialah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi nan lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir nan semoga terbuka lebar baginya. Amin. #

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa nan dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana…
Tangan kami…
Kaki kami…
Mulut kami…
Mata hati kami…

Luruskanlah…
Kukuhkanlah…
Di jalan cahaya….
sempurna

Ya Allah, semoga Engkau masukkan kami ke dalam golongan orang-orang nan ihsan, sehingga kelak saat tangan dan kaki kami berkata di hari penghisaban, kesaksiannya menambah berat timbangan amal baik kami, amiin.

——

Amiin…

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Spion Buram Saat Hujan??

Bagi pengendara mobil, sion sangat dibutukan untuk melihat kondisi belakang bagian samping. Namun saat hujan terkadang bisa sangat mengganggu jika...

Close